Komunikasi itu Lebih dari Sekedar Kata-kata

Komunikasi adalah hal yang sering kita lakukan di setiap waktu dalam hidup kita karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan komunikasi satu sama lain.

Demikian juga halnya dalam proses manajemen proyek. Komunikasi di antara para stakeholder proyek harus dapat dikelola dengan baik dan dapat menghasilkan pemahaman yang sama atas suatu hal yang dikomunikasikan tersebut, apalagi jika para stakeholder proyek tersebut berasal dari berbagai bangsa yang mempunyai bahasa nasional berbeda-beda dan kita harus menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan komunikasi itu?

Secara umum pengertian komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan atau informasi antara dua individu atau lebih dengan efektif sehingga dapat dipahami dengan mudah.

Lalu bagaimana cara penyampaiannya? Ada dua cara, yaitu dengan lisan dan tulisan.

Namun yang kita bahas di sini adalah komunikasi lisan. Ya, komunikasi lisan atau berbicara yang sudah tentu kita juga sudah biasa lakukan sehari-hari dalam hidup kita.

Inti dari komunikasi lisan yang baik adalah kesiapan kita untuk mendengar pendapat orang lain dan bukan memaksanakan orang lain mendengar pendapat kita. Banyak orang yang merasa bahwa dirinya lah yang paling benar atau paling mengerti tentang suatu hal, sehingga tidak siap menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat dirinya.

Namun tahukan Anda bahwa ketika kita berkomunikasi lisan dengan orang lain, terutama jika kita sedang mendengar orang lain berbicara, ada hal penting yang perlu kita perhatikan selain kata-kata yang diucapkan, yaitu bahasa tubuh dan intonasi suara.

Bahkan menurut para ahli komunikasi, dari tiga aspek komunikasi lisan, yaitu kata-kata yang diucapkan, bahasa tubuh, dan intonasi suara, bahasa tubuh memegang peranan yang sangat besar, diikuti oleh intonasi suara, dan terakhir baru kata-kata yang diucapkan.

Berikut kita lihat satu-persatu tiga aspek komunikasi lisan tersebut.

1. Bahasa tubuh.

Bahasa tubuh seseorang ketika berkomunikasi lisan adalah pesan tanpa kata-kata. Bahasa tubuh tersebut merupakan proses pertukaran pikiran dan gagasan di mana pesan yang disampaikan dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, sentuhan, artifak (lambang yang digunakan), diam, waktu, suara, serta postur dan gerakan tubuh.

Ya, dengan melihat bahasa tubuh seseorang ketika berkomunikasi lisan, kita bisa mendapatkan setengah informasi dari orang tersebut. Dengan bahasa tubuh, kita bisa tahu apakah orang tersebut sedang marah, emosi, senang, atau setuju/tidak setuju dengan hal yang dibicarakan, dan sebagainya, sehingga kita bisa mengantisipasi atau mengelola dengan baik dalam berkomunikasi lisan dengan yang bersangkutan.

Misalnya, dari bahasa tubuhnya, seorang pemilik proyek sedang marah akibat keterlambatan penyelesaian proyek oleh kontraktor. Jika seorang Project Manager dari pihak kontraktor akan berdiskusi dengan pemilik proyek tersebut untuk mengatasi keterlambatan penyelesaian proyek dengan suatu rencana yang sudah disusun dengan baik dan dipandang bisa dilaksanakan oleh pihak kontraktor, Project Manager tersebut harus bisa dan tahu kapan dan bagaimana cara memulai pembicaraan dengan pemilik proyek agar pemilik proyek mau berdiskusi dengan sang Project Manager. Bahkan jika diperlukan diskusi tersebut ditunda terlebih dahulu karena berdiskusi dengan seseorang yang sedang marah mungkin hasilnya menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2. Intonasi suara.

Intonasi suara adalah bagaimana nada suara seseorang ketika berbicara, misalnya tinggi rendahnya nada suara, cepat lambatnya nada suara suara, keras lemahnya nada suara, dan lain sebagainya.

Misalnya, dalam sebuah rapat proyek konstruksi, seorang Project Manager dari kontraktor melihat bahwa pelaksanaan proyek yang dikerjakan oleh subkontraktor berjalan lebih lambat dari jadwal yang sudah ditetapkan dan dia memanggil penanggung jawab dari subkontraktor dan berbicara sebagai berikut, “Saya instuksikan Anda untuk menambah tenaga kerja”.

Dari kalimat di atas, mari kita lihat apa yang ingin ditegaskan oleh Project Manager tersebut, apabila intonasi nada dari Project Manager tersebut ditekankan pada kata yang ditulis dalam huruf kapital di bawah:
– “SAYA instruksikan Anda untuk menambah tenaga kerja” (Saya, bukan orang lain).
– “Saya INSTRUKSIKAN Anda untuk menambah tenaga kerja” (Instruksi, bukan permohonan).
– “Saya instruksikan Anda untuk MENAMBAH TENAGA KERJA” (Menambah tenaga kerja, bukan menambah jam kerja dengan melemburkan tenaga kerja).

3. Kata-kata yang diucapkan.

Walaupun kata-kata yang diucapkan adalah faktor yang paling kecil setelah bahasa tubuh dan intonasi suara, namun agar kata-kata yang diucapkan dapat dipahami pihak yang kita ajak bicara, kata-kata tersebut harus menggunakan pilihan kata yang jelas dan tepat sehingga tidak menimbulkan multi tafsir bagi yang mendengarnya.

Dengan memahami tiga aspek dalam komunikasi lisan tersbut di atas, maka diharapkan agar komunikasi yang terjadi sangat efktif karena ada kutipan yang mengatakan bahwa “Komunikasi yang efektif dapat membuat perbedaan besar di semua bidang bisnis”. Tentu saja ini kutipan ini juga berlaku dalam manajemen proyek.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*