Keuntungan dan Kerugian Kontrak Lump Sum

Kontrak lump sum umumnya terjadi pada kontrak proyek konstruksi antara pemberi kerja dan penerima kerja.

Baca juga: Arti Kontrak Lump Sum dalam Proyek Konstruksi

Lalu, apa saja keruntungan dan kerugian dari kontrak lump sum ini?

Karena umumnya kontrak lump sum ini terjadi di kontrak proyek konstruksi, maka keuntungan dan kerugian dari kontrak lump sum yang dijelaskan di bawah ini adalah juga keuntungan dan kerugian yang umum terjadi di proyek konstruksi, walaupun bisa juga terjadi di proyek non konstruksi. Untuk itu kami menggunakan istilah pemilik proyek sebagai pemberi kerja dan kontraktor sebagai penerima kerja.

Keuntungan kontrak lump sum:

  • Risiko dari pemilik proyek berkurang karena harga kontrak yang disepakati antara pemilik proyek dan kontraktor bersifat tetap. Pemilik proyek akan dapat menetapkan anggaran dan dana yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut.
  • Perubahan ruang lingkup pekerjaan baik kerja tambah maupun kerja kurang yang diminta oleh pemilik proyek akan seminimal mungkin. Hal ini disebabkan ruang lingkup pekerjaan dan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan pada prinsipnya semua sudah tetap dan sudah dimasukkan ke dalam dokumen kontrak yang disepakati antara pemilik proyek dan kontraktor.
  • Proses pemilihan atau penunjukkan kontraktor oleh pemilik proyek tidak terlalu rumit karena pemilik proyek menganggap kontraktor yang mengajukan penawaran harga sudah memahami isi dokumen pengadaan yang diberikan oleh pemilik proyek dan sudah memasukkan semua biaya yang diperlukan termasuk biaya risiko yang ada untuk menyelesaikan pekerjaan.
  • Intitusi perbankan atau penyandang dana akan lebih mudah mengevaluasi nilai proyek dan pada gilirannya lebih cepat dalam proses penyaluran dananya. Ini bisa terjadi baik dari pihak pemilik proyek maupun pihak kontraktor.
  • Pembayaran dari pemilik proyek kepada kontraktor tidak perlu dilakukan sekaligus, tetapi berdasarkan termin yang disepakati kedua belah pihak, misalnya berapa besar pembayaran uang muka, pembayaran saat kedatangan material, pembayaran untuk kemajuan pekerjaan, pembayaran saat serah terima, dan pembayaran setelah masa pemeliharaan. Hal ini akan menguntungkan kedua belah pihak karena masing-masing pihak dapat mengantisipasi dan mengendalikan cash flow sesuai dengan yang direncanakan. Jenis pembayaran seperti ini juga mengurangi risiko pembayaran yang berlebih dari pemilik proyek kepada kontraktor.
  • Pengendalian proyek oleh pemilik proyek akan lebih mudah karena seluruh item pekerjaan sudah dianggap dimasukkan ke dalam kontrak antara pemilik proyek dan kontraktor.
  • Hubungan kerja antara pemilik proyek dan kontraktor serta konsultan pengawas jika ada akan lebih baik, karena targetnya sudah jelas yaitu menyelesaikan pekerjaan sesuai spesifikasi dan jangka waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak.

Kerugian kontrak lump sum:

  • Ada risiko keuangan yang sangat tinggi bagi kontraktor. Hal ini disebabkan kontraktor harus melaksanakan semua pekerjaan tersebut sesuai dengan spesifikasi dan waktu yang disepakati dalam kontrak, walaupun mungkin terjadi hal-hal yang di luar dugaan selama pelaksanaan proyek. Risiko ini tentu akan berakibat bertambahnya marjin keuntungan untuk kontraktor jika bisa dimitigasi dengan baik, namun bisa menjadikan turunnya marjin keuntungan atau bahkan menjadi kerugian untuk kontraktor jika tidak diantisipasi dengan baik.
  • Dengan adanya risiko di atas, sudah tentu biasanya harga kontrak lump sum yang ditawarkan pihak kontraktor akan lebih tinggi dari kontrak yang tidak lump sum.
  • Proses penanda-tanganan kontrak antara pemilik proyek dan kontraktor bisa lebih lama karena diperlukan diskusi terlebih dahulu antara pemilik proyek dengan kontraktor yang disebut Contract Discussion Agreement untuk menyepakati semua hal yang belum jelas di dalam dokumen pengadaan yang diberikan oleh pemilik proyek.
  • Semua desain dan spesifikasi teknis dari ruang lingkup pekerjaan harus sudah diselesaikan dan ditetapkan dalam dokumen pengadaan oleh pemilik proyek sehingga kontraktor dapat menghitung dan mengajukan penawaran harga dengan benar dan juga agar tidak ada deviasi atau permintaan perubahan ruang lingkup pekerjaan dari pemilik proyek di kemudian hari.
  • Usulan perubahan atau variasi yang diajukan kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan biasanya akan ditolak oleh pemilik proyek dengan alasan bahwa semuanya sudah termasuk harga lump sum yang ditawarkan oleh kontraktor. Kalaupun akhirnya pemilik proyek dapat menerima usulan deviasi tersebut, proses persetujuannya akan memakan waktu yang lama karena harus benar-benar yakin bahwa deviasi tersebut benar adanya dan tidak termasuk risiko yang sudah dibebankan kepada kontraktor.
  • Kontraktor memiliki fleksibilitas untuk menentukan metoda kerja sendiri, sepanjang hasil pekerjaan yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi dan dalam jangka waktu pelaksanaan yang telah disepakati dalam kontrak. Namun kontraktor kadang bisa saja memanfaatkan situasi ini dan mencari celah untuk mendapatkan marjin keuntungan yang lebih besar, misalnya dengan melonggarkan standar K3, dsb.
  • Kadang bisa terjadi konflik antara pemilik proyek dengan kontraktor akibat perbedaan pendapat dalam memahami isi kontrak, di mana kontraktor beranggapan ada variasi dalam pelaksanaan pekerjaan, sementara pemilik proyek beranggapan sudah termasuk risiko kontraktor berdasarkan kontrak lump sum.

Demikianlah keuntungan dan kerugian dari kontrak lump sum dalam proyek konstruksi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*