Arti Kontrak Lump Sum dalam Proyek Konstruksi

Kontrak lump sum adalah salah satu jenis kontrak yang umumnya terdapat di dalam kontrak proyek konstruksi.

Maksud kontrak lump sum adalah kontrak di mana harga kontrak bersifat tetap dan telah disepakati serta ditulis dalam perjanjian atau kontrak proyek konstruksi antara pemberi kerja dan penerima kerja.

Pemberi kerja di sini umumnya adalah pemilik proyek dan penerima kerja adalah kontraktor. Namun demikian bisa juga diterapkan ke struktur organisasi di bawah kontraktor, misalnya pemberi kerja adalah kontraktor dan penerima kerja adalah subkontraktor atau pemasok barang, dan seterusnya.

Baca juga: Kontrak Lump Sum pada Proyek Pemerintah

Harga yang ditetapkan dan disepakati di sini adalah harga yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh kegiatan pelaksanaan proyek konstruksi berdasarkan rencana dan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh pemberi kerja dalam proses pengadaan kontrak proyek konstruksi, terlepas dari proses pengadaannya itu sendiri dengan sistem lelang atau penunjukan langsung.

Dalam kontrak lump sum ini, penerima kerja harus benar-benar mempelajari seluruh dokumen-dokumen rencana dan spesifikasi yang ditetapkan pemberi kerja dalam proses pengadaan, seperti gambar desain, spesifikasi teknis, jadwal pelaksanaan, instruksi lelang, standar yang digunakan, penerapan K3, peraturan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, semua perizinan yang diperlukan, dan lain-lain.

Kontrak jenis lump sum ini sangat minim perubahan desain atau variasi dari rencana awal yang akan membutuhkan perubahan harga, sehingga pemberi kerja pada dasarnya telah menyerahkan semua risiko kepada penerima kerja, yang pada gilirannya penerima kerja akan meminta harga yang lebih tinggi untuk menanggung segala risiko yang tidak terduga yang mungkin terjadi dalam proses pelaksanaan pekerjaan.

Penerima kerja harus benar-benar teliti dalam memperhitungakan itu semua, termasuk biaya-biaya overhead dan juga keuntungan dari penerima kerja. Itu semua harus dilakukan agar penerima kerja tidak salah menghitung dalam mengajukan penawaran harga kepada pemberi kerja.

Penerima kerja akan bertanggung jawab atas selesainya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak proyek konstruksi dan akan menyediakan sarana dan metode sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Oleh karena itu pengalaman kerja dari penerima kerja dan juga sistem manajemen proyek yang baik harus dimiliki oleh penerima kerja.

Baca juga: Keuntungan dan Kerugian Kontrak Lump Sum

Perlu dicatat di sini, bahwa kontrak lump sum itu bukan berarti satu kali pembayaran.

Tata cara pembayaran dapat disepakati dalam kontrak proyek konstruksi antara pemberi kerja dan penerima kerja, misalnya berapa besaran pembayaran uang muka, pembayaran saat material didatangkan, pembayaran saat material terpasang, pembayaran saat serah terima pekerjaan, dan pembayaran setelah masa pemeliharaan. Selain itu juga harus dijelaskan dokumen apa saja yang harus disiapkan oleh penerima kerja untuk bisa mendapatkan pembayaran dari pemberi kerja.

Apakah Anda masih bingung dengan kontrak lump sum pada proyek konstruksi?

Baiklah, berikut adalah contoh sederhana kontrak lump sum proyek konstruksi yang mungkin sebagian dari kita pernah lalukan.

Anda membeli sebuah rumah baru di suatu perumahan dan berencana akan memasang pagar di bagian depan halaman rumah Anda.

Lalu Anda mencari kontraktor (bisa perusahaan atau perorangan) yang menyediakan jasa membuat dan memasang pagar di sekitar rumah Anda dan minta kontraktor tersebut datang ke rumah Anda.

Dalam kasus ini, Anda berperan sebagai pemberi kerja, sedangkan kontraktor pagar adalah penerima kerja.

Setelah kontraktor pagar tersebut datang ke rumah Anda, kontraktor pagar tersebut mengukur panjang halaman depan yang akan dipasang pagar sesuai dengan keinginan Anda, sementara Anda melihat-lihat buku atau brosur yang diberikan oleh kontraktor pagar yang berisi berbagai macam gambar atau foto model pagar yang ditawarkan oleh kontraktor pagar.

Singkatnya Anda dan kontraktor pagar akhirnya sepakat bahwa Anda akan membeli jasa pembuatan dan pemasangan pagar dari kontraktor pagar tersebut. Adapun yang disepakati adalah model pagarnya sesuai dengan salah satu gambar yang ada di brosur tersebut dengan harga Rp. 10 juta termasuk biaya pemasangan di rumah Anda. Pembayaran uang muka 50% dan sisanya dibayarkan setelah pagar dipasang, serta waktu kerja 2 minggu setelah uang muka dibayarkan.

Kesepakatan ini adalah contoh sederhana dari kontrak lump sum dalam suatu proyek konstruksi, walaupun tentu bentuk kontraknya mungkin dalam bentuk yang sangat sederhana.

Anda tidak perlu tahu bagaimana kontraktor pagar tersebut membeli berbagai macam material yang diperlukan dan bagaimana juga cara fabrikasi pagarnya, termasuk bagaimana cara membawanya ke rumah Anda serta memasangnya di rumah Anda. Itu semua tanggung jawab kontraktor pagar, yang penting dalam 2 minggu, pagar tersebut sudah terpasang dengan rapi sesuai pesanan Anda.

Lalu bagaimana jika beberapa hari setelah Anda membayar uang muka tiba-tiba Anda ingin mengubah desain? Atau bagaimana jika model pagar yang dipasang sedikit berbeda dengan yang telah disepakati? Atau bagaimana pagar yang dipasang sesuai dengan pesanan Anda tapi waktu penyelesaiannya lebih dari 2 minggu?

Inilah yang dinamakan telah terjadi penyimpangan atau variasi dalam kontrak proyek konstruksi. Apakah harganya tetap Rp. 10 juta? Itu harus didiskusikan dan disepakati kembali antara pemberi kerja dan penerima kerja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*